SELAMAT DATANG DI TEMPAT MENGKAJI KITAB WAROQOT YANG ISINYA MENJELASKAN DASAR-DASAR ILMU USHUL FIQH



silahkan tuliskan suatu kata/kalimat yang mungkin ada di Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

MENERANGKAN PENGERTIAN DAN MACAM-MACAM KALIMAT 'AAM (bag 2)

post on: Kamis, November 17, 2011
Lanjutan posting sebelumnya :) dah lama gak posting jdinya alexa rank nya jadi nol lagi ;( okeh langsung aja kita lanjutkan pembahasan tentang kalimat 'aam.

3. Isim mubham, yaitu isim yang memiliki makna yang tidak jelas/masih samar. Antara lain :
A) من (man) menunjukkan sesuatu yang berakal, macamnya ada 2 yaitu :(1)
‎ ‎من الشرطية contohnya :
من دخل دارى فهو آمن‎
"barang siapa yang masuk rumahku, maka ia akan aman".
(2) من الإستفهامية‎
contoh : من عندك "siapakah didekatmu itu?".

Adapun من موصوفة tdk termasuk lafad yang 'aam. Karena من موصوفة memiliki makna seperti makna yang dimiliki isim nakiroh, sementara isim nakiroh sendiri bkan termasuk lafad yg 'aam {an-nafahat 72}, seperti contoh : رأيت من معجبا لك "aku melihat orang yang membuat dirimu kagum".
Demikian pula من موصولة bukan termasuk bagian dr lafad yg 'aam, karna terkadang digunakan untuk menunjukkan arti orang2 tertentu, seperti contoh : ومنهم من يستمع إليك "dan diantara mereka ada org yg mendengarkan (bacaan)mu" al-an'am 25.
ومنهم من ينظر إليك‎
"dan diantara mereka ada orang yang melihat kepadamu" yunus 43.

Makna yang dikehendaki dr lafad man pada dua contoh ayat diatas adalah sebagian dari orang2 munafiq.

B. ما untuk menunjukkan sesuatu yg tidak berakal. Macamnya ada tiga, yaitu :
(1) ma syartiyah, seperti contoh : ما جاءنى منك أخذته "apa saja yg datang darimu, aku ambil"
(2) ma mawshulah, seperti contoh : ما حرمه الله وجب إجتنابه "sesuatu yg diharamkan Allah, wajib dijauhi".
(3) ma istifhaamiyah, seperti contoh: ما عندك "apa yang ada didekatmu?"

Adapun untuk maa mawshufah tdk termasuk bagian dri lafad yg 'aam, krna memiliki makna seperti makna yang dimiliki isim nakiroh {an-nafahat 72} seperti contoh مررت بما معجب لك "aku lewat bertemu dgn sesuatu yg membuat kagum dirimu".

C أي untuk menunjukkan sesuatu yg berakal dan tdk berakal. Macamnya ada 3, yaitu:
(1) ayyun istifhämiyyah, contoh : أي الحزبين أحصى لما لبثوا أمدا "manakah diantara kedua golongan itu yg lebh tepat dlm menghitung berapa lama mereka tinggal (dalam gua itu)?"
(2) ayyun syarthiyyah, contoh أي عبيدى جاءك أحسن إليك "manasaja diantara hamba2ku jika datang kepadamu, muliakanlah".
(3) ayyun mawshulah, contoh أي الأشياء أردت أعطيتكه "manasaja yang engkau inginkan, aku berikan kepadamu"

D. أين untuk menunjukkan arti tempat. Terdiri 2 macam, yaitu:
(1) ayna syarthiyyah, contoh : أينما تكن أكن معك "dimana saja kamu berada, aku akan menyertaimu"
(2) ayna istifhämiyyah, contoh: أين مكانك "dimanakah tempat tinggalmu?"

4. ISIM NAKIROH yang dimasuki ﻻ , seperti contoh ﻻ رجل فى الدار "sama sekali tidak ada lelaki didalam rumah".

Mushonif melanjutkan,
والعموم من صفات النطق وﻻ يجوز دعوى العموم فى غيره من الفعل وما يجرى مجراه كما فى جمعه صلى الله عليه وسلم بين الصلاتين فى السفر رواه البخارى فإنه ﻻ يعم السفر الطويل والقصير فإنه إنما يقع فى واحد منهما وكما فى قضائه بالشفعة للجار رواه النسائى عن الحسن مرسلا فإنه ﻻ يعم كل جار لاحتمال خصوصية فى ذلك
Penjelasan:
Tidak semua dalil bisa disebut 'aam, namun hanya tertentu dalil-dalil yg berupa ucapan, baik ayat2 qur'an maupun hadits-hadits Nabi Saw. Maka, dalil2 yg menerangkan tentang tindakan nabi ataupun sesuatu yg menyamai tindakan, tdk bisa disifati dgn 'aam. Karena sebuah tindakan atau yg menyamai tindakan dpt dipastikan mengarah pada kondisi tertentu, shg tdk bisa difahami secara umum.

Yang dimaksud dgn "sesuatu yang menyamai tindakan nabi" adalah :
حكاية الصحابى حاﻻ بلفظ ظاهره العموم‎
"suatu keadaan yang diceritakan oleh salah seorang sahabat, dimana menurut lahiriahnya mempunyai pengertian yang 'aam".

Contohnya :
- Pada suatu saat, Nabi pernah menjamak sholat ketika bepergian. Tindakan Nabi ini tdk bsa kita fahami scr umum, sehingga diperbolehkan menjamak sholat baik bepergian jarak jauh (telah mencapai dua marhalah, 85 km) maupun jarak dekat (kurang dari 85 km). Karena tindakan beliau ini pasti mengarah kepada salah-satu diantara keduanya (jarak jauh atau dekat).
- Suatu saat Nabi memberikan keputusan mengenai akad syuf'ah (membeli secara paksa) atas orang yg menjual tanah pekarangannya, dimana hak tersebut ditetapkan untuk tetangganya. Keputusan ini tdk bolei difahami scr umum, sehingga berlaku untuk semua tetangga. Karena hak syuf'ah ini mungkin hanya ditetapkan untuk tetangga yang mempunyai sifat2 tertentu menurut pandangan Nabi {an-nafahat 75}.
- Nabi mencegah jual-beli yg mengandung ghorör (penipuan). Larangan ini tdk bisa diartikan secara umum, krn ada kemungkinan yg dilaran tsbt adalah ghorör dalam bentuk tertentu {an-nafahät 76}.

Sekian dulu yah, semoga bisa dipahami, amin.

MENERANGKAN PENGERTIAN DAN MACAM-MACAM KALIMAT 'AAM (bag 1)

post on: Sabtu, November 12, 2011
Kali ini akan diterangkan kalimat 'Aam dan karena keterangannya banyak, maka akan dibagi menjadi beberapa posting.
وأما العام فهو ما عم شيئين فصاعدا من غير حصر من قولهم عممت زيدا وعمرا بالعطاء أى شملتهم به ففى العام شمول وألفاظه الموضوعة له أربعة الإسم الواحد المعرف بالألف واللام نحو إن الإنسان لفى خسر إﻻ الذين آمنوا
واسم الجمع المعرف باللام نحو فاقتلوا المشركين
والأسماء المبهمة كمن فيمن يعقل كمن دخل دارى فهو آمن
وما فيما ﻻ يعقل نحو ما جاءنى منك أخذته
وأى إستفهامية أو شرطية أو موصولة فى الجميع أى من يعقل وما ﻻ يعقل
نحو أى عبيدى جاءك أحسن إليه وأى الأشياء أردت أعطيتكه وأين فى المكان نحو أينما تكن أكن معك ومتى فى الزمان نحو متى شئت جئتك وما فى الإستفهام نحو ما عندك والجزاء نحو ما تعمل تجز به وفى نسخة والخبر بدل الجزاء نحو عملت ما عملت وغيره كالخبر على النسخة الأولى والجزاء على الثانية وﻻ فى النكرات نحو ﻻ رجل فى الدار
Penjelasan :
'Aam menurut lughot berarti الشمول (menyeluruh). Sedangkan menurut istilah, 'aam adalah :
لفظ يعم دفعة واحدة أكثر من واحد من غير دلالة على حصر‎
"suatu lafadz yg cakupan artinya lebih dari satu dgn tanpa menunjukkan adanya batasan".
Dgn arti lain, 'am adalah kata/lafadz yg memberi pengertian umum, meliputi segala sesuatu yg terkandung dlm kata itu dgn tdk terbatas. Yg dimaksud "dgn tanpa menunjukkan batasan" disini adalah dgn melihat dilälah-nya lafad, tdk melihat kenyataan yg sebenarnya. Seperti السموات disbut 'am krn dilihat dri lafadnya tdk ada yg menunjukkan kpd btasan tertentu, meskipun dlm kenyataannya langit itu jumlahnya hanya 7 lapis tdk lebih . Sedangkan lafad ألف ألف (sejuta) bukan termasuk 'am krna dilihat dri dilälah lafadnya menunjukkan jumlah yg terbatas, meskipum dlm kenyataannya sangat sulit menghitung benda/barang yg jumlahnya mencapai sejuta {an-nafahat,70}.

Isim nakiroh dlm kalam mutsbat bukan termasuk lafad yg 'am, seperti أكرم رجلا (muliakanlah seorang lelaki), krna meskipun lelaki pd contoh ini tdk ditentukan orangnya, namun hanya terbatas satu orang saja.

Makna yg tercakup oleh lafad yg 'am adalah satu persatunya afrod (anggota), tdk mengarah kpd kumpulan afrod. Oleh karna itu pada kalimat
كل رجال البلد يحملون الصخرة العظيمة‎
"seluruh lelaki dikampung itu mengangkat batu yg besar" lafad : كل رجال البلد tdk bisa disebut 'am, krna yg mengangkat batu yg besar itu bkan satu-persatu dri lelaki kampung, tpi kumpulan dri smua lelaki dikampung itu. Berbeda dengan contoh :
جاء الرجال فى المسجد يوم الجمعة‎
"semua lelaki datang kemasjid pada hari jumat". Maka yg dimaksud الرجال adalah setiap (satu-persatunya) lelaki, bukan kumpulan para lelaki {an-nafahat,70}.

Lafad yang menunjukkan arti 'aam terdiri 4 macam:
1. ISIM MUFROD yg dima'rifatkan dgn alif lam (أل). Yg dimaksud أل disini adalah أل istighroq, yaitu أل yg berarti menghabiskan seluruh afrod. Contohnya:
إن الإنسان لفى خسر إﻻ الذين آمنوا‎
"sesungguhnya seluruh manusia itu merugi, kecuali org2 yg beriman...". Lafad الإنسان termasuk lafad 'am krn merupakan isim mufrod (kata benda tunggal) yg kemasukan al istighroqiyah. Begitu juga pda Q.S.AL-BAQOROH:275, lafad al-bai dan al-riba.
2. ISIM JAMA' yg dima'rifatkan dgn أل. Yg dimaksud isim jama' disini :
اللفظ الدال على جماعة‎
"lafad yg menunjukkan arti golongan/kaum". Isim jama' mencakup:
a) jama', yaitu:
ما دل على أكثر من اثنين دﻻلة تكرار الواحد بالعطف‎
"suatu lafad yg menunjukkan arti lebih dari dua, sebagaimana arti yg ditunjukkan oleh lafad mufrod yg diulang-ulang dgn cara di 'athofkan" {an-nafahat,72}. Contohnya : فاقتلوا المشركين "bunuhlah orang2 musyrik". Lafad المشركين menunjukkan arti golongan org2 musyrik, yakni lebih dari dua hingga tdk terbatas. Dan arti yg ditunjukkan oleh المشركين sama dgn lfad المشرك yg diulang2 dgn huruf 'athof, seperti المشرك والمشرك والمشرك.
b) isim jins al-jam'i, yaitu:
ما كان موضوعا للحقيقة ملغى فيه إعتبار الفردية ويفرق بينه وبين واحده بالتاء غالبا‎
"lafad yg menunjukkan hakikat sesuatu, tnpa memandang satu-persatunya afrod. Antara jama' & mufrodnya, pada umumnya dibedakan dgn ta". Seperti lafad لتمر قوت (semua jenis kurma itu merupakan makanan yg menguatkan). Lafad at-tamru dsni menunjukkan arti semua jenis kurma tanpa memilah-milahnya.
c) isim jama' yaitu :
ما دل على أكثر من اثنين دﻻلة المفرد على جملة أجزاء مسماه‎
"suatu lafad yg menunjukkan arti lebih dari dua, sbgaimana arti yg di tunjukkan isim mufrod atas keseluruhan bagian2 yg dicakupnya" {an-nafahat, 71}. Seperti lafad القوم yg mencakup semua anggota kaum, yang terdiri dari zaed, umar, bakr,,, dst secara keseluruhan. Makna yg di tunjukkan oleh lafad القوم ini, seakan menyamai lafad زيد yang menunjukkan atas bagian2 tubuh zaed yg terdiri dari kepala, tangan, perut, kaki,,, dst.
3. ISIM MUBHAM
4. ISIM NAKIROH

untuk point ke 3 & 4, akan diterangkan pada postingan selanjutnya ^_^

mahesa-jenar: wanita Shalihah

post on: Rabu, Oktober 26, 2011
Assalamu'alaikum sahabat semua,, mohon maaf saya lama gak aktif disini dikarenakan sibuk mengurus pernikahan saya. Berikut ada sebuah artikel tentang wanita sholehah idaman setiap lelaki. Klik saja judulnya wanita Shalihah

BAGIAN-BAGIAN SYARI'AT

post on: Sabtu, Agustus 13, 2011
Melanjutkan postingan terdahulu, bahwa ada yang berpendapat orang2 kafir tetap terkena khitob sehingga harus menjalankan furu' asy-syari'ah.

Adapun syari'ah sendiri, itu terbagi terdiri dari dua bagian, yaitu :
1. Ushul ad-diin, yaitu tentang ketauhidan & hal2 yg berkaitan dgn tauhid. Dalam masalah ini para ulama sepakat, bhwa semua org tanpa kecuali, baik muslim maupun kafir, mendapatkan khitob untuk mengimaninya {an-nafahat, 62}. Karena Rosulullah diutus kepada seluruh umat manusia agar mereka mau beriman kepada Allah & Rosulnya.

Allah berfirman :
قل ياأيها الناس إنى رسول الله إليكم جميعا‎
"katakanlah wahai umat manusia ! Sesungguhnya aku adalah utusan Allah untuk kalian semua".

2. Furu' asy-syari'ah, yaitu brupa hukum2 taklifiyah seperti wajib,sunah, haram,,,, dsb, dan hukum-hukum wadl'iyyah yang terdiri : sebab, mani' dan syarat.

Imam as-Subki berkata : "para ulama berselisih pendapat mengenai orang2 kafir, apakah mereka tercakup dlm khitob Allah yg berkaitan hukum taklifi ini. Adapun yg berkaitan dgn hukum wadl'i para ulama sepakat bhwa mereka tecakup dlam khitob Allah, seperti halnya orang2 mukmin" {an-nafahat, 62}.

Orang-orang kafir kelak diakherat, selain disiksa atas kekufurannya juga disiksa karna melakukan perkara2 yg diharamkan atau meninggalkan sesuatu yg diwajibkan atas mereka. Namun jika mereka mau masuk islam, maka dosa-dosa mereka terampuni {an-nafahat, 62-63}.

Allah berfirman
قل للذين كفروا إن ينتهوا يغفر لهم ما قد سلف
"katakanlah kepada org2 kafir itu : jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yg lalu" (al-anfal :38).

Kembali imam haromain menerangkan kalimat amr, beliau menulis :
والأمر بالشئ نهى عن ضده والنهى عن الشئ أمر بضده‎ ‎فإذا قال له أسكن كان ناهيا له عن التحرك أو ﻻ تتحرك كان آمرا له بالسكون
penjelasan :

Memerintahkan sesuatu, berarti melarang kebalikannya. Contohnya ketika mengatakan kepada orang lain : أسكن = diamlah >> berarti melarang untuk bergerak.
Contoh lagi, أقيموا الصلاة = dirikanlah sholat >> berarti melarang untk meninggalkan sholat.
Contoh lainnya وآتوا الزكاة = berikanlah zakat >> berarti melarang tidak mengeluarkan zakat. Dan lain sebagainya.

Demikian pula melarang sesuatu berarti memerintahkan kebalikannya. Seperti mengatakan ﻻ تتحرك = jangan bergerak ! (berarti memerintahkan untuk DIAM). Begitu pula kalimat ﻻ تقتلوا الصيد وأنتم حرم = janganlah kamu membunuh binatang buruan ketika kamu sedang ihrom (berarti memerintahkan untuk MEMBIARKAN HIDUP BINATANG BURUAN ketika sedang ihrom).

Masalah Amr kita cukupkan sampai disini dulu, jika ada pertanyaan silahkan isi dibawa atau cbox disamping, untung postingan slanjutnya akan diterangkan masalah nahi.

NAHI DAN MACAM-MACAMNYA (bag 2)

post on:
Jika larangan tersebut mengarah kpd PERKARA DILUAR IBADAH atau DILUAR MU'AMALAH & keberadaannya tdk menetap, maka tdk menyebabkan batalnya ibadah atau mu'amalah. Contohnya :
a) Berwudlu dengan menggunakan air ghoshoban (curian). Disini, yg dilarang bukan wudlunya, tapi perbuatan mengghoshob (mencuri) yang dilarang. Sedangkan mencuri air tdk musti digunakan untuk wudlu. Bisa saja air itu dipakai untk mandi, mencuci, minum, masak dsb. Dengan demikian, wudlu dgn menggunakan air hasil mencuri tetap dihukumi sah, krna yang dilarang adalah PERKARA DILUAR IBADAH wudlu yg tdk slalu menetap pd wudlu, yakni PERBUATAN MENCURI (ghoshob).

b) Jual-beli saat adzan jum'at berkumandang. Larangan disini sebenarnya mengarah kpd "berpalingnya seseorang dri pergi jum'atan". Maka jual-beli disini hukumnya haram, namun tdk menyebabkan batalnya akad jual beli {an-nafahät, 67}.
MACAM2 SHIGHOT AMR DAN NAHI
وترد أى توجد صيغة الأمر والمراد به أى الأمر الإباحة كما تقدم أو التهديد نحو إعملوا ما شئتم أو التسوية نحو إصبروا أو ﻻ تصبروا أو التكوين نحو كونوا قردة
penjelasan:

SIGHOT AMR tdk slamanya menunjukkan makna WAJIB, terkadang secara MAJAZY menunjukkan makna diluar wajib, antara lain:
1. Bermakna IBAHAH (memperkenankan untuk melakukan sesuatu). Contohnya :
وإذا حللتم فاصطادوا‎
"dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka boleh berburu"

2. Bermakna TAHDÌD (menakut-nakuti), contoh :
إعملوا ما شئتم‎
"lakukan apa saja yang kalian mau"
dalam contoh ini bukan dimaksudkan agar mukhotob (yg diajak bicara) melakukan apa saja yg dia mau, tpi dimaksudkan untk menakut-nakuti mukhotob agar berhati-hati/tdk meneruskan tindakannya.

3. Bermakna TASWIYYAH (mempersamakan antara melakukan atau meninggalkan sesuatu) contoh :
إصبروا أوﻻ تصبروا سواء عليكم‎
"bersabarlah atau jangan bersabar, itu sama saja bagi kalian"
Ayat ini ditujukan kpd orang2 kafir yg dimasukkan dalam neraka. Bagi mereka, bersabar ataupun tdk sabar, tidak ada bedanya, mereka tetap merasakan pedihnya adzab neraka untk slama-lamanya.

4. Bermakna TAKWIN (mewujudkan sesuatu dari tidak ada dgn segera) contoh:
كونوا قردة‎
"jadilah kalian kera"

5. Bermakna IRSYAD (memberi petunjuk) contoh:
واستشهدوا شهيدين من رجالكم‎
"dan persaksikanlah dgn dua orang saksi dari laki-laki (diantara kamu)"

6. Bermakna IDZNU (memberi ijin), seperti saat ada orang yg mengetuk pintu rumah, maka pemilik mengatakan أدخل masuk !

SHIGHOT NAHI tdk slamanya menunjukkan makna HARAM, terkadang menunjukkan makna lain, antara lain :
1. Bermakna KAROHAH (hukum makruh) contoh:
وﻻ تيمموا الخبيث منه تنفقون‎
"janganlah kalian memilih yang buruk-buruk lalu kalian menafkahkan dari padanya" {al-baqoroh 267}.
Shighot nahi pd ayat ini menunjukkan hukum makruh bersedekah dgn harta yg berkualitas rendah, sementara dirinya punya harta yg kualitasnya baik.

2. Bermakna IRSYAD (memberi petunjuk) contoh:
ﻻ تسألوا عن أشياء إن تبدلكم تسؤكم‎
"janganlah kalian bertanya (kepada Nabimu) sesuatu yg jika diterangkan kpd kalian, akan menyusahkan kalian"
Disini tdk menunjukkan makna haram bertanya kepada Nabi, namun hanya sekedar petunjuk jika memang mau bertanya hendaknya bertanya sesuatu yg tdk memberatkan pda diri sendiri nantinya.

3. Bermakna DO'A, contoh:
ربنا ﻻ تزغ قلوبنا بعد إذهديتنا‎
"ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kpd kesesatan setelah Engkau beri petunjuk kpd kami"

4. Bermakna KESUDAHAN DARI SESUATU, contohnya :
وﻻ تحسبن الذين قتلوا فى سبيل الله أمواتا بل أحياء عند ربهم يرزقون‎
"janganlah kamu mengira bhwa orang2 yg gugur dijalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup disisg Tuhannya dgn mendapat rizki"
Ayat ini menerangkan tentang arwah para syuhada. Mereka akan tetap hidup bebas dialam barzakh dan mendapatkan rizki dari Allah.

5. Bermakna TAHQIR (menganggap remeh terhadap sesuatu), contoh :
ﻻ تمدن عينيك إلى ما متعنا به أزواجا منهم‎
"janganlah skali-kali kamu menunjukkan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah kami berikan kepada beberapa golongan diantara mereka (orang-orang kafir itu).

Alhamdulillah pembahasan tentang 'AMR DAN NAHI BESERTA MACAM-MACAM SHIGHOT (bentuk) nya telah selesai, semoga dapat dipahami :)

NAHI DAN MACAM-MACAM NYA

post on: Jumat, Agustus 12, 2011
Setelah menerangkan amr, sekarang akan diterangkan lawan dari amr, yakni nahi & macam2nya. Mushonif menuliskan :
والنهى إستدعاء أى طلب الترك بالقول ممن دونه على سبيل الوجوب على وزان ما تقدم فى حد الأمر ويدل النهى المطلق شرعا على فساد المنهى عنه فى العبادات سواء أنهى عنها لعينها كصلاة الحائض وصومها أو لأمر ﻻزم لها كصوم يوم النحر والصلاة فى الأوقات المكروهة وفى المعاملات إن رجع إلى نفس العقد كما فى بيع الحصاة أو لأمر داخل فيها كما فى بيع الملاقيح أو لأمر خارج عنه ﻻزم له كما فى بيع درهم بدرهمين فإن كان غير ﻻزم له كالوضوء بالماء المغصوب مثلا وكالبيع وقت الجمعة لم يدل على الفساد خلافا لما يفهمه كلام المصنف

Nahi adalah :
القول الدال على استدعاء الترك ممن هو دونه على سبيل الوجوب
"ucapan yang menunjukkan permintaan untuk meninggalkan sesuatu kepada org sebawahnya yg sifatnya wujub/harus". Sedamgkan nahi yg dimutlakkan :
مطلق النهى يقتضى دوام الترك ما لم يقيد بالمرة
"nahi yg dimutlakkan menuntut untuk ditinggalkan slamanya, selama tdk disertai qoyid untk dilakukan skali saja".

Contoh nahi yg dimutlakkan : ‎ﻻ تأكلوا الرباjanganlah kalian memakan riba (berarti larangan memakan riba dsni berlaku slamanya, krna tdk ada qoyid yg menunjukkan dilakukan skali saja).

Contoh nahi yg diqoyidi "cukup dilakukan sekali" adalah : ﻻ تسافر اليوم = jangan bepergian hari ini (berarti besok/lusa boleh bepergian).

Larangan yg tdk bersifat mengharuskan, tdk bisa disebut nahi, sebagaimana larangan untk meninggalkan perkara makruh yg sifatnya hanya anjuran. Maka pada hakikatnya, makruh bukan termasuk perkara terlarang (an-manhiyyu 'anhu).

Secara akal, perkara yg dilarang adalah perkara yg tercela. Maka nahi yg dimutlakkan berarti menunjukkan rusak(batal)nya perkara yg dilarang, baik brupa ibadah maupun mu'amalah.

Larangan yg menjadikan batalnya perkara yg dilarang adalah larangan yg mengarah kepada :
1. Dzatiyah ibadah atau mu'amalah, seperti :
a) larangan sholat & puasa bagi yg haidl. Larangan ini langsung mengarah kpd dzatnya ibadah, dalilnya hadits :
أليس إذا حاضت لم تصل ولم تصم
"bukankah ketika wanita haidl, tdk diperbolehkan sholat & puasa".
Maka bila wanita yg sdang haidl melakukan sholat atau puasa, maka puasa / sholatnya tidak sah atau dihukumi rusak / batal.
b) Larangan agar tdk melakukan ba'i hashoh {jual beli dgn cara melempar kerikil untk menentukan barang yg akan dibeli} dengan tanpa menggunakan shighot. Larangan ini menunjukkan atas batalnya BA'I AL-HASHÖH, krn mengarah kpd shighot yg menjadi rukun (dzatiah) dri akad jual-beli.
c) Larangan menjual anak binatang yg mash dlam kandungan, larangan ini mengarah kpd MABI' (barang yg dijual), krna janin dlm kandungan tdk bisa disbut harta, sdangkan syarat dari barang yg diperjual-belikan harus brupa harta (MAAL). Larangan ini menunjukkan atas batalnya akad jual-beli anak binatang yg msh brada dlm kandungan, krn mengarah kpd mabi' yg merupakan rukun dari akad jual-beli.

2. Perkara diluar ibadah yg slalu menetap dlm ibadah atau mu'amalah.
Pengertian "selalu menetap" disini adalah tdk bisa dipisahkan. Artinya, ibadah maupun mu'amalah tdk akan bisa terwujud dgn tanpa perkara tersebut. Seperti contoh :
a) Larangan berpuasa pada 2 hari raya, dgn dasar hadits :
نهينا عن صيامين وبيعتين الفطر والنحر والملامسة والمنابذة‎
"kita dilarang dari dua macam puasa dan 2 macam jual-beli, yaitu puasa pada 'idul fitri & idul adha, jual-beli dgn menyentuh barang ditempat yg gelap & jual-beli dgn saling melemparkan".
Larangan puasa pda hadits ini, tdk ditujukan kpd dzatiahnya puasa, tapi mengarah pda i'rodl 'an dliyäfatillah (berpaling dari suguhan Allah). Sedangkan berpaling dri hidangan Allah ini pasti terjadi pada diri org yg puasa. Sebab org yg berpuasa meninggalkan makan & minum, sdangkan org yg tdk makan & minum pd saat hari raya berarti menolak hidangan yg disuguhkan Allah untuk umatNYA. Maka puasa pada hari raya dihukumi haram & tdk sah (fasid).

b) Larangan mengerjakan sholat sunah mutlak pada waktu2 yg dimakruhkan sholat. Yaitu saat {matahari terbit, matahari tepat diatas kepala kecuali pd hari jumat, setelah sholat asar, stlah sholat subuh, & saat matahari menguning menjelang maghrib}. Larangan disini tdk ditujukan kpd dzatiahnya sholat, tapi mengarah kpd "penggunaan waktunya". Sedangkan waktu itu merupakan perkara yg tak terpisahkan dri sholat, krn stiap sholat pasti membutuhkan kpd waktu. Maka sholat sunah pd waktu2 yg dimakruhkan itu hukumnya tdk sah atau fasid.
c) Larangan menjual satu dirham ditukar dgn dua dirham (riba fadlol). Larangan ini ditujukan kpd kelebihan satu dirham yg merupakan sesuatu diluar mabi' namun ditetapkan didalam akad ba'i. Oleh karna ditetapkan dlm akad, maka keberadaannya tdk bisa lepas dri akad tersebut (bersifat mengikat) {an-nafahät, 67}.

Bersambung yah :-)

MENERANGKAN ORANG-ORANG YANG TERMASUK DALAM KHITOB ALLAH

post on: Jumat, Juli 29, 2011
Maaf lama ga posting disini dikarenakan sibuk ditempat lain :-)
الذى يدخل فى الأمر والنهى وماﻻ يدخل هذه ترجمة
يدخل فى خطاب الله تعالى المؤمنون وسيأتى الكلام فى الكفار
والساهى والصبى والمجنون غير داخلين فى الخطاب لانتفاء التكليف عنهم
ويؤمر الساهى بعد ذهاب السهو عنه بجبر خلل السهو كقضاء ما فاته من الصلاة وضمان ما أتلفه من المال
Penjelasan

Orang2 mukmin termasuk dalam khitob Allah, artinya orang2 mukmin ini mendapatkan beban untk menjalankan perintah2 Allah dan menjauhi larangan2nya. Sedangkan pembahasan tentang orang2 kafir akan diterangkan nanti (insyallah).

Pengertian khitob disini adalah khitob taklifi, yakni hukum2 Allah yg berkaitan dgn perbuatan orang2 mukallaf, sebagaimana yang telah diposting sebelumnya, yakni meliputi wajib, sunah, haram, makruh, khilaful aula, dan mubah.

Adapun orang yang lalai, anak kecil, dan orang gila, tidak termasuk dlm khitob Allah (karena mereka bukan mukallaf). Artinya mereka tdk mendapatkan tuntutan untuk menjalankan hukum2 Allah yang berupa taklifi.

Pengertian orang yang lalai (الساهى) disini adalah :
من‎ ﻻ‎ يدرى‎ فيشمل‎ النائم‎
"orang yang tidak tahu keadaan, maka orang yg tidur juga termasuk".

Sedangkan perbedaan antara orang yang lupa (الناسى) dgn orang yang lalai (الساهى) adalah :
إن الناسي إذا ذكرته تذكر والساهى بخلافه
"orang yg lupa adalah ketika kamu mengingatkan maka dia akan teringat kembali, sedangkan orang yang lalai ketika diingatkan tidak akan ingat".

Demikian pula tdk termasuk dalam khitob Allah, adalah orang mabuk secara tidak disengaja dan orang yg pingsan. Karena tujuan khitob taklifi adalah agar org2 mematuhi apa yg diperintahkan dan apa yg dilarang Allah kpd mereka. Sedangkan org yg lalai, anak kecil, orang gila, org yg sedang mabuk dan org yg pingsan tdk bisa menyadari akan khitob Allah.

Menurut qoul shohih, org yg dipaksa untuk melakukan sesuatu dibawah ancaman, misalnya dipaksa mencuri dsb, juga tdk termasuk dlm khitob Allah. Artinya ia bukan termasuk mukallaf, sehingga tdk berdosa jika dia mencuri dsb kre terpaksa dibawah ancaman (sumber : an-nafahat hlman 60).

Rosulullah saw bersabda :
رفع عن أمتى الخطاء والنسيان وما أستكرهوا عليه‎
"dibebaskan atas umatku dosa yg berkaitan karena luput, kelalaian dan sesuatu yg dipaksakan kpd mereka".

Rosulullah juga bersabda :
رفع القلم عن ثلاثة عن المجنون المغلوب على عقله وعن الصبي حتى يحتلم وعن النائم حتى يستيقظ‎
"pena pencatat amal terangkat dri 3 org, yaitu orang gila yg hilang akalnya, anak kecil sampai baligh, dan org tidur hingga bangun dri tidurnya".

Anak kecil atau orang gila, jika merusak barang milik orang lain, maka yg harus menggantinya adalah walinya, krna ia (wali) telah ceroboh dlm menjaga mereka. Wali anak kecil atau orang gila ini disamakan dgn pemilik binatang yg ceroboh menjaga binatang piaraannya hingga memakan tanaman milik orang lain {an-nafahät, 60}.

Meskipun orang yg lalai tdk termasuk dlm khitob Allah, tpi saat sadar dri kelalaiannya diwajibkan mengganti kekurangan yg terjadi selama masa lalai itu. Misalnya seseorang tertidur sebelum masuk waktu sholat, lalu bangun saat waktu sholat habis, maka ia wajib mengqodloi sholatnya. Sebagaimana sabda Nabi saw. :
من نام عن صلاة أو نسيها فليصلها إذا ذكرها‎
"barang siapa tidur meninggalkan sholat atau lupa akan sholat, maka hendaknya sholatlah ketika sudah teringat".

Demikian pula anak kecil & org gila yg merusak barang orang lain, maka ketika sudah baligh & sembuh dri gila berkewajiban mengganti barang yg dirusaknya {an-nafahat, 61}. Namun tidak berkewajiban mengqodloi sholat yg meraka tinggalkan saat blum baligh atau masih gila, karena ini keringanan untuk mereka atas hak Allah. Beda dgn merusak barang org lain yg merupakan hak adami, maka wajib untuk menggantinya.

Sedangkan orang2 kafir :
والكفار مخاطبون بفروع الشرائع وبما ﻻ تصح إﻻ به وهو الإسلام لقوله تعالى ما سلككم فى سقر قالوا لم نك من المصلين وفائدة خطابهم بها عقابهم عليها إذ ﻻ تصح منهم فى حال الكفر لتوقفها على النية المتوقفة على الإسلام وﻻ يؤاخذون بها بعد الإسلام ترغيبا فيه
penjelasan:

Para ulama beda pendapat mengenai org2 kafir, apakah mendapat khitob untk menjalankan furu'usy syari'ah atau tidak. Sebagian ulama berpendapat mereka tdk mendapat khitob, krna mrka tdk sah untk melakukan furu' asy-syari'ah, krn smua ibadah membutuhkan niat, sedangkan niat tdk sah kecuali dilakukan seorang muslim {an-nafahät, 61}. Yang lain berpendapat "mereka (kafir) mendapatkan khitob untk menjalankan furu' syari'ah dgn masuk islam terlebih dahulu". Pendapat ini adalah qoul shohih yg berkembang dikalangan ushuliyyin.

Orang2 kafir mendapatkan khitob dgn tjuan agar mereka kelak disiksa krna meninggalkan furu' syari'ah. Dalilnya firman Allah : "apakah yg menjadikan kamu masuk kedalam neraka saqor? Mereka menjawab kami dulu tdk termasuk org2 yg mengerjakan sholat".

Orang2 kafir ternyata kelak di yaumil hisab akan dimasukkan ke neraka saqor krna meninggalkan sholat, ini menunjukkan bhw mereka mendapatkan khitob untuk menjalankan furu'usy syari'ah.

MENERANGKAN KALIMAT AMR DAN MACAM-MACAMNYA (bag 3)

post on: Sabtu, Juli 16, 2011
Maaf yah lama diposting, ini adalah lanjutan dari postingan sebelumnya ^_^
وﻻ يقتضى الفور لأن الغرض منه إيجاد الفعل من غير اختصاص بالزمان الأول دون الزمان الثانى وقيل يقتضى الفور وعلى ذلك يحمل قول من يقول إنه يقتضى التكرار والأمر بإيجاد الفعل أمر به وبما ﻻ يتم الفعل إﻻ به كأمر بالصلوات أمر بالطهارة المؤدية إليها فإن الصلاة ﻻ تصح بدونها
وإذا فعل بالبناء للمفعول أى المأمور به يخرج المأمور عن العهدة أى عهدة الأمر ويتصف الفعل بالإجزاء‎
penjelasan:
Amr yang dimutlakkan (tdk ditentukan waktunya) tdk menuntut untk segera dikerjakan, krna tujuan dari amr adlah mewujudkan suatu tindakan, namun boleh dilakukan kapan saja.

Sedangkan amr yg ditentukan dgn batasan waktu atau disertai ketentuan untk segera dilakukan atau boleh ditunda-tunda, maka harus dilaksanakan sesuai ketentuan yang ada (an-nafahat 55-56).

Misalnya perintah sholat maktubah. Perintah ini disertai ketentuan brupa batasan waktu yg dilonggarkan (al-muqoyyad bil waqti al-muwassa'). Dengan demikian tdk hrus dilaksanakan pada awal waktu, tpi boleh dilakukan diawal waktu, tengah2 waktu, atau bahkan diakhir waktu, asal tdk sampai keluar dari waktu yang telah ditentukan.

Sebagian ulama berpendapat "amr yang dimutlakkan harus dikerjakan dgn segera & tidak boleh ditunda2". Pendapat ini didukung sebagian dri ashhab asy-syafi'i & imam karkhi dari kalangan hanafiyah (an-nafahat 55). Pendapat ketiga ini senada dgn pendapat para ulama yg mengharuskan untk diulang2 sepanjang umur, sehingga perintah tersebut mengharuskan untuk segera dilaksanakan.

Mereka berdalil dgn firman Allah :
ما منعك أﻻ تسجد إذ أمرتك‎
"apakah yang menghalangimu untuk sujud (kepda adam) saat Aku menyuruhmu?".

Pada ayat diatas, jelas Allah mencela iblis krna saat diperintah sujud kpd adam, iblis tdk mau melaksanakan seketika itu juga. Maka dpt disimpulkan, bhwa perintah itu wajib dilaksanakan dgn segera & tdk boleh ditunda2. Maka untuk amr yg dimutlakkan, jika ternyata dlm pelaksanaannya diakhirkan maka harus ada azm (tekad yg kuat) diawal waktu, bhwa ia akan mengerjakan pda waktu brikutnya (an-nafahat 56).

Sedangkan untuk amr yg dibatasi waktu yg ditentukan (al-muqoyyad bi waqti mu'ayyan), para ulama berselisih pendapat "menurut sebagian ulama wajib untuk azm diawal waktu". Pendapat ini didukung imam nawawi dikitabnya syarh muhadzdzab (an-nafahat 56).

Memerintahkan untuk mengerjakan sesuatu berarti juga memerintahkan untuk mengerjakan perkara yg menyebabkan sempurnanya sesuatu yg diperintahkan. Dalam kaidah fiqhiyah dikatakan :
ماﻻ يتم الواجب إﻻ به فهو واجب‎
"sesuatu yg mana perkara wajib tdk akan sempurna, kecuali dgn mengerjakan sesuatu itu, maka sesuatu itu dihukumi wajib pula".

Seperti contoh :
1‎. Sholat tdk akan sempurna kecuali dgn bersuci, maka bersuci juga hukumnya wajib.
2‎. Membasuh muka saat wudlu tdk sempurna kecuali dgn mengikutkan sebagian dari kepala dan bagian bawah rahang, maka membasuh sebagian kepala dan bagian bawah rahang juga hukumnya wajib.

Ketika perkara yg diperintahkan sudah dilakukan sesuai sarat & rukunnya, maka seorang mukalaf sudah terlepas dri tanggungan dan sudah dianggap ijza' (cukup) untuk menggugurkan kewajiban.

Menurut pendapat kedua "sesuatu yg dikerjakan sesuai sarat dan rukunnya, belum tentu dianggap mencukupi". Karena pengertian ijza menurut pendapat ini adalah : إسقاط القضاء (sesuatu yang tlah menggugurkan kewajiban untuk mengqodoinya). Misalnya seseorang sholat, dimana menurut dugaannya (dzhonn) {sebagaimana telah diterangkan pda postingan sebelumny tentang dzonn, bhwa yg menjadi tolak ukur didalam keabsahan ibadah adalah dugaan si mukallaf, jika dugaannya sesuai dgn kenyataan yg sebenarnya} sudah dlm keadaan suci, namun setelah sholatnya selesai terdapat najis pada pakaiannya, maka dia wajib mengulang sholatnya lagi. Dengan demikian ada ibadah yg dihukumi sah, namun blum menggugurkan kewajiban, yakni masih wajib untuk mengulanginya lagi.

Alhamdulillah selesai juga pembahasan amr dan macam-macamnya. ^_^
pada postingan slanjutnya akan menerangkan tentang org2 yg termasuk dlm khitob Allah. :-)

MENERANGKAN KALIMAT AMR DAN MACAM-MACAMNYA (bag 2)

post on: Selasa, Juli 12, 2011
Postingan yg lalu diterangkan macam2 kalimat amr ketika bersamaan dgn qoyyid yg mengarah kpd slain hukum wajib, maka amr tersbut tdk lgi menunjukkan hukum wajib.

Selanjutnya, ketika amr bersamaan dgn qorinah yg mengarah kpda slainnya hkum wajib, mka amr itu tdk lagi menunjukkan hukum wajib, namun diarahkan kpda hukum yg sesuai dgn qorinah tersebut. Contohnya :
والذين يبتغون الكتاب مما ملكت أيمانكم فكاتبوهم إن علمتم فيهم خيرا‎
"dan budak-budak yg kamu miliki, yang menginginkan akad kitäbah (angsuran), hendaklah kamu buat akad kitäbah dgn mereka, jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka". Dan contoh lainnya :
وإذا حللتم فاصطادوا‎
"dan apabila kamu telah selesai menunaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu".

Para ulama tlah sepakat, bhwa mengadakan akad kitabah dgn para budak hukumnya sunah. Sedangkan berburu binatang stlah lepas dari ihrom itu hukumnya mubah.

Dengan demikian amr yg terdapat pda ayat فكاتبوهم diarahkan kpd hukum sunah. Dan amr yg terdapat pda ayat فاصطادوا diarahkan pda hukum mubah, krna ada qorinah berupa ijma' ulama. Danjuga menurut kaidah fiqhiyah "perintah yg terjadi setelah adanya larangan, berarti menunjukkan hukum mubah". Dimana pda ayat فاصطادوا perintah berburu terjadi setelah adanya larangan berburu binatang sebab ihrom, oleh krn itu berburu binatang selepas menunaikan ihrom dihukumi mubah (an-nafahat 53).

Mushonif melanjutkan dgn menulis :
وﻻ يقتضى التكرار على الصحيح لأن ما قصد به من تحصيل المأمور به يتحقق بالمرة الواحدة
والأصل براءة الذمة مما زاد عليه إﻻ إذا دل الدليل على قصد التكرار فيعمل به
كالأمر بالصلوات الخمس والأمر بصوم رمضان
ومقابل الصحيح أنه يقتضى التكرار فيستوعب المأمور بالمطلوب مايمكنه من زمان العمر حيث ﻻ بيان لأمد المأمور به لانتفاء مرجح بعضه على بعض

penjelasan :

Menurut qoul shohih, amr tdk menuntut untk dikerjakan secara berulang-ulang krna tjuan amr menghasilkan sesuatu yg diperintahkan (ma'mur bih) bisa terwujud dgn satu kali pelaksanaan. Misalnya seorang murid diperintahkan gurunya untuk menggambar maka ckup skali saja perintah itu dilaksanakan, tdk perlu melakukan pekerjaan menggambar itu berulang2 kali.

Dengan skali saja mengerjakan perintah yg dibebankan kpd dirinya, maka ma'mur bih sudah bebas dari tanggungan. Kecuali ada dalil yang mengharuskan untuk mengerjakan berulang kali.

Contohnya: berpuasa hrus dikerjakan berulang2, stiap datang romadlon, karna ada dalilnya, yaitu :
فمن شهد منكم الشهر فليصمه
"barang siapa diantara kalian melihat bulan (hilal awal romadon), maka hendaklah berpuasa". Dengan demikian maka perintah puasa itu hrus dilakukan berulang kali stiap datang bulang romadon dan tidak ckup dilakukan skali saja seumur hidup. Slain itu, diperkuat dalil lain brupa hadits dimana nabi bersabda : "berpuasalah karena melihat hilal romadon, dan berhentilah berpuasa krna melihat hilal syawal". Dengan keterangan hadits ini, berarti menunjukkan bhwa puasa romadon hrus dilakukan berulang2 stiap kali masuk bulan romadon (an-nafahat 54).

Contoh lain : perintah untk sholat maktubah yg hrus dikerjakan berulang2, yakni dlm sehari smalam wajib dikerjakan 5 kali, dgn dalil hadits nabi :
فرض الله على أمتى ليلة الإسراء خمسين صلاة فلم أزل أراجعه وأسأله التخفيف حتى جعلها خمسا فى كل يوم وليلة‎
"Allah tlah mewajibkan umatku dimalam isro untk mengerjakan sholat sebanyak 50 kali, lalu tak henti2nya aku kembali menghadap & memohon keringanan, sehingga Allah menjadikannya 5 kali sholat sehari-semalam".

Sebagian ulama mengatakan "amr menuntut untk dikerjakan secara berulang-ulang, jika amr tersebut digantungkan atas suatu sifat atau syarat" (an-nafahat 54). Contoh amr yg digantungkan atas suatu sifat itu seperti :
الزانية والزانى فاجلدوا كل واحد منهما مائة جلدة‎
"perempuan yg berzina & laki2 yg berzina maka deralah keduanya seratus kali dera". Perintah mendera/mencambuk digantungkan atas suatu sifat, yaitu perzinaan. Dengan demikian, perintah melakukan cambukan/dera harus dilakukan berulang kali stiap terjadi perzinaan.

Contoh amr yg digantungkan atas suatu syarat itu seperti :
وإن كنتم جنبا فاطهروا‎
"dan jika kalian junub maka mandilah". Perintah untuk mandi besar dsni digantungkan atas suatu syarat, yaitu keadaan junub. Dengan demikian, kewajiban mandi besar ini hrus diulang tiap kali junub.

Menurut pendapat ketiga "amr itu menuntut untuk dikerjakan berulang2 secara mutlak, tanpa memandang digantungkankan atas suatu sifat ataupun tidak". Pendapat ini didukung Abu ishaq al-isfiroyin, Abu hatim al-qozwini dan segolongan ulama lain (an-nafahat 54). Maka suatu perintah tdk ckup dilakukan satu kali, namun harus dikerjakan berulang2 seumur hdup, kcuali ada qorinah yang menunjukkan sudah dianggap ckup dgn dikerjakan skali saja seumur, seperti haji & umroh.

Maka dari itu, sholat wajib dikerjakan berulang2 dalam tiap harinya, puasa & zakat fitrah wjib diulang stiap stahun skali, memberi nafkah istri wajib dilakukan stiap hari, amar ma'ruf nahi munkar wajib dilakukan sepanjang umur hidup..dsb.

Bersambung yah ^_^

MENERANGKAN KALIMAT AMR DAN MACAM-MACAMNYA (bag 1)

post on: Selasa, Juli 05, 2011
والأمر استدعاء الفعل بالقول ممن هو دونه على سبيل الوجوب فإن كان الإستدعاء من المساوى سمى إلتماسا ومن الأعلى سمى سؤاﻻ وإن لم يكن على سبيل الوجوب بأن جوز الترك فظاهره أنه ليس بأمر أى فى الحقيقة‎
penjelasan :
Pengertian amr adalah:
طلب الفعل ممن هو دونه على سبيل الوجوب‎
"menuntut kepada orang yg sebawahnya, untk mengerjakan sesuatu dgn tuntutan yg mengharuskan".
Jadi bisa disimpulkan, bhw orang yg memerintah kedudukannya hrus lebih tinggi dripada org yg di perintah. Pendapat ini didukung oleh abu ishaq asy-syairozi, ibnu shobagh & sam'ani (an-nafahat: 50).

Sementara imam ar-rozi, al-amudi & ibnu hajib berpendapat: "orang yg menyuruh/merintah tdk harus lebih tinggi dripda yg diperintah, namun disyaratkan memposisikan diri seakan-akan lebih tinggi daripada org yg di perintah". Dan imam subkhi dlam jam'ul jawami' berpendapat :" org yg memerintah tdk harus lebih tinggi dripada org yg diperintah dan juga tdk harus memposisikan diri lebih tinggi dripada org yg diperintah". Pendapat ini adalah yang rojih (kuat).

Amr harus berupa permintaan/perintah yg bersifat mewajibkan. Dengan dmikian, perkara2 sunah yg hanya brupa anjuran tdk termasuk dlm kategori perkara yg diperintahkan (ma'mur bih). Pendapat ini didukung oleh as-sarakhsi, abu yusri & para ulama ahli tahqiq syafi'iyyah (an-nafahat hlm 50). Mereka berpegang pda hadits :
لو ﻻ أن أشق على أمتي لأمرتهم بالسواك‎
"kalau tdk memberatkan umatku, niscaya aku perintahkan mereka bersiwak". Pada hadits ini tersirat suatu mafhum, bhw bersiwak yg merupakan perkara sunah, ternyata bukan termasuk perkara yg diperintahkan oleh Rosulullah.

Qodli abu bakar & sbagian ulama berpendapat "perkara sunah termasuk suatu yg diperintahkan". Dalam hal ini mrka berargumen:
1‎. Perkara sunah termasuk ibadah, sedangkan ibadah pasti diperintahkan
2‎. Para ahl lughot tlah sepakat, bhw amr terbagi dua yakni perintah yg sifatnya mewajibkan dan perintah yg hanya bersifat anjuran.

Permintaan dari orang yg sederajat dgn org yg diperintah disebut iltimäs. Sdangkan permintaan yg datang dari org yg drajatnya sebawahnya org yg diperintah, disebut dgn su'al atau do'a (permohonan), contohnya rakyat kpda penguasa.

Mayoritas ulama berpendapat: "amr secara lughot, syara' maupun akal pada hakikatnya menunjukkan hukum wajib, dan jika diarahkan pda hukum sunah berarti menggunakan makna majaz" (an-nafahat 50).

Adapun macam2 kalimat amr adalah:
والصيغة الدالة عليه‎ ‎إفعل نحو إضرب وأكرم واشرب وهى عند الإطلاق والتجرد عن القرينة الصارفة عن طلب الفعل تحمل عليه أى على الوجوب نحو أقيمو الصلاة إﻻ ما دل الدليل على أن المراد منه الندب أو الإباحة فيحمل عليه أى على الندب أو الإباحة مثال الندب فكاتبوهم إن علمتم فيهم خيرا ومثال الإباحة وإذا حللتم فاصطادوا وقد أجمعوا على عدم وجوب الكتابة والإصطياد‎
Penjelasan :
Shigot yang menunjukkan makna amr adalah إفعل atau sesamanya, isim fi'il amr dan fi'il mudhore yg kemasukan lam amr. Contohnya إعلم =ketahuilah (fi'il amr berwazan if'al), أنصر =tolonglah (fi'il amr berwazan uf'ul), إضرب =pukullah (fi'il amr berwazan if'il) dan أكرم =muliakanlah (fi'il amr berwazan af'il).
Contoh isim fi'il amr : صه shoh (diamlah), حيهل hayyahal (menghadaplah).
Contoh fi'il mudhori yg kemasukan lam amr : لينفق liyungfiq (hendaknya memberi nafkah), ليكرم liyukrim (hendaknya memuliakan), ليشهد liyusyhid (hendaknya mencari saksi) dan lain sebagainya.

Shigot amr ketika dimutlakkan & tdk bersamaan qorinah yg membelokkan dri makna aslinya, maka amr itu diarahkan kpd hukum wajib, contoh :
‎أقيموا الصلاة =dirikanlah sholat (menunjukkan hukum wajib sholat), وآتوا الزكاة =brikanlah zakat (menunjukkan hukum wajib membayar zakat), صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته =puasalah kalian krna melihat hilal, dan berhenti puasalah karna melihat hilal (menunjukkan hukum wajib puasa krna melihat hilal romadon dan wajib berhari raya krna melihat hilal syawal).

Ketika amr bersamaan dgn qoyid yg mengarah kpda slain hukum wajib, maka amr tersebut tdk lgi menunjukkan hukum wajib.

Berhubung media penulisan dibatasi, maka sekian dahulu yah insyallah dilanjutkan nanti :-)

MENERANGKAN MACAM-MACAM MAJAZ

post on: Kamis, Juni 30, 2011
Pada postingan terdahulu diterangkan kalam jika dilihat dri sisi isti'malnya terbagi atas haqiqoh & majaz, dan sudah diterangkan pengertian dari majaz itu sendiri. Kali ini akan di jelaskan macam2 dari majaz itu sendiri, seperti ditulis mushonnif :
والمجاز إما أن يكون بزيادة أو نقصان أو نقل أو استعارة

فالمجاز بالزيادة مثل قوله تعالى ليس كمثله شيئ

فالكاف زائدة وإﻻ فهى بمعنى مثل فيكون له تعالى مثل وهو محال والقصد بهذا الكلام نفيه

والمجاز بالنقصان مثل قوله تعالى واسأل القرية أى أهل القرية

وقرب صدق تعريف المجاز على ما ذكر بأنه أستعمل نفى مثل المثل فى نفى المثل

وسؤال القرية فى سؤال أهلها

والمجاز بالنقل كالغائط فيما يخرج من الإنسان نقل إليه عن حقيقته وهى المكان المطمئن تقضى فيه الحاجة بحيث ﻻ يتبادر منه عرفا إﻻ الخارج

والمجاز بالإستعارة كقوله تعالى جدارا يريد أن ينقض أى يسقط

فشبه ميله إلى السقوط بإرادة السقوط التى هى من صفات الحى دون الجماد

والمجاز المبنى على التشبيه يسمى استعارة

penjelasan:
Macamnya majaz itu banyak sekali, diantaranya :

1. Majaz dgn cra "menambahkan kalimat" yg tdk berarti, namun ada tujuan mengukuhkan, Contohnya :
ليس كمثله شيئ

"tiada sesuatu yg menyerupaiNYA".
Sebenarnya antara kaf dan lafad mislu mempunyai arti yg sama "menyerupai". Oleh karna itu kaf tidak lagi difungsikan maknanya, namun hanya sekedar penguat makna lafad mislu. Dan jika kaf tetap difungsikan, maka akan terjadi kerancuan makna, krn ayat trsbut akan mengandung pengertian "tidak ada sesuatu yng menyamai terhadap sesuatu yg menyamaiNYA". Dengan dmikian, ada sesuatu yg menyamai Allah dan itu mustahil!!!.
2. Mengurangi kalimat, Contohnya: واسأل القرية "bertanyalah pada kampung", aslinya "bertanyalah kpd penduduk kampung", dsini ada pengurangan lafad ahlun yg dibuang. Kemajazannya terletak pda lafad القرية dgn menggunakan makna (penduduk kampung).
Contoh lain: سال النهر (sungai itu mengalir) asalnya : سال ماء النهر (air sungai itu mengalir).
3. Memindahkan dari makna aslinya kpd makna yg berlaku menurut keumuman ('urf). Seperti lafad ghoíth yg aslinya bermakna "tanah rendah untuk buang hajat", lalu dipindahkan maknanya kpd makna "kotoran yg keluar ketika buang hajat".
4. Majaz isti'aroh, yaitu majaz yg didasarkan atas penyerupaan dgn perkara lain. Misalnya:
حضر الأسد فى المسجد
"seorang lelaki pemberani tlah datang didalam masjid". الأسد arti sebenarnya adalah macan, lalu digunakan untuk menunjukkan arti lelaki pemberani, krna diantara keduanya ada keserupaan, yaitu sama2 bersifat pemberani.
Contoh lain :
فوجدا فيها جدارا يريد أن ينقض فأقامة‎
"kemudian keduanya mendapati dlam negri itu DINDING RUMAH YANG INGIN ROBOH, maka khidr menegakkan dinding itu".
Dinding rumah yg MIRING krna akan roboh, seolah-olah mempunyai "keinginan untuk roboh", padahal yang mempunyai keinginan atau kemauan itu hanyalah makhluk hidup, bukan benda mati seperti dinding rumah.

Alhamdulillah, semoga ilmu kita selalu ditambahkan oleh Allah.

Haqiqoh & majaz

post on: Senin, Juni 27, 2011
Pada postingan yang lalu, kalam jika dilihat dari kandungan/isinya terbagi menjadi 8 macam. Kali ini akan di jelaskan kalam dilihat dari penggunaannya/isti'malnya itu terbagi menjadi Haqiqoh & majaz, hal ini sbagaimana di tulis oleh mushonif, yaitu

ومن وجه آخر ينقسم إلى حقيقة ومجاز

فالحقيقة ما بقى فى الإستعمال على موضوعه

وقيل ما أستعمل فيما أصطلح عليه من المخاطبة وإن لم يبق على موضوعه

كالصلاة فى الهيئة المخصوصة فإنه لم يبق على موضوعه اللغوى وهو الدعاء بخير

والدابة لذات الأربع كالحمار فإنه لم يبق على موضوعه وهو كل ما يدب على الأرض

penjelasan:

Pengertian haqiqoh, menurut pendapat pertama adalah :
ما بقى فى الإستعمال على موضوعه اللغوى
"lafad yg masih menetapi makna aslinya menurut lughot ".
Semisal :
Lafad : أسد, dengan menggunakan makna macan.

lafad : الصلاة dgn menggunakan makna : berdoa memohon kebaikan.

lafad : الدابة dgn menggunakan makna binatang yang merayap diatas bumi.

Sedangkan Haqiqoh menurut pendapat kedua adalah :
ما أستعمل فيما أصطلح عليه من المخاطبة وإن لم يبق على موضوعه اللغوى
"lafad yg menggunakan makna menurut istilah suatu golongan, meskipun tdk lg menetapi makna aslinya menurut lughot".

Semisal :
lafad الصلاة ,yg menurut istilah fuqoha diartikan suatu ibadah dgn tata-cara tertentu, yaitu diawali dgn takbirotul ikrom dan diakhiri dgn salam.

lafad الدابة , yg menurut istilah 'Urf (istilah umum) diartikan binatan berkaki empat, seperti sapi kuda keledai unta dan lain sbagainya.

lafad الفاعل , yg menurut istilah nahwiyyin diartikan isim yg dibaca rofa, yg dirofakan oleh fi'il sebelumnya.

Dan lafad2 yang lain sebagainya.

Sedangkan majaz:

والمجاز ما تجوز أى تعدى به عن موضوعه وهذا على المعنى الأول للحقيقة

وعلى الثانى هو ما أستعمل فى غير ما أصطلح عليه من المخاطبة

والحقيقة إما لغوية بأن وضعها أهل اللغة كالأسد للحيوان المفترس

وإما شرعية بأن وضعها الشارع كالصلاة للعبادة المخصوصة

وإما عرفية بأن وضعها أهل العرف كالدابة الأربع كالحمار

وهى لغة لكل ما يدب على الأرض

والخاص كالفاعل للإسم المعروف عند النحاة ‎

وهذا التقسيم ماش على التعريف الثانى للحقيقة دون الأول القاصر على اللغوية

penjelasan :

Majaz menurut pendapat pertama, adalah :
ما تعدى به عن موضوعه اللغوية‎
"lafad yg telah keluar dari makna aslinya yg sebangsa lughot".
Seperti contoh الأسد dgn makna "seorang pemberani" sdgkan makna aslinya adalah macan. Lafad الصلاة dgn makna "ibadah dgn tata-cara tertentu" makna aslinya adalah berdo'a memohon kebaikan. Lafad الدابة dgn makna "binatang berkaki empat" sdangkan makna aslinya adalah binatang yang merayap diatas bumi. Lafad الفاعل dgn makna "isim yg dibaca rofa, yg dirofa'kan fi'il sebelumnya" sdangkan makna aslinya adalah orang yang melakukan sesuatu. Lafad الغائط dgn makna tinja yg keluar saat buang hajat, makna aslinya adalah "tempat buang hajat/toilet".

Sedangkan menurut pendapat kedua, majaz adalah :
ما أستعمل فى غير ما أصطلح عليه من المخاطبة‎
"lafad yg menggunakan makna diluar istilah yg digunakan suatu golongan".
Contohnya "sholat" dgn menggunakan makna (berdoa memohon kebaikan) krn sholat menurut "golongan ahli fiqh" adalah ibadah dgn tata-cara tertentu. Lafad "ad däbbah" dgn makna (binatang yg merayap diatas bumi) krn menurut 'urf 'am, däbbah adalah binatang berkaki empat. Contohnya lagi "al fä'il" dgn makna org yg melakukan sesuatu, krn menurut golongan nahwiyin, fä'il adalah isim yg dibaca rofa', yg dirofakan oleh fi'il sebelumnya.

Dengan demikian, HAQIQOH menurut pendapat kedua, terbagi menjadi tiga macam, yaitu :
1. Haqiqoh Lughowiyah, yaitu lafad yg menggunakan makna menurut "istilahnya para Ahli Lughot"
2. Haqiqoh Syar'iyyah, yaitu lafad yg menggunakan makna menurut "istilahnya para Ahli syara'"
3. Haqiqoh 'Urfiyyah, yaitu lafad yg menggunakan makna menurut "istilahnya para Ahli 'Urf".

Ahli 'urf sendiri terbagi dua kelompok :
1. 'Urf Khosh seperti klompok ahli nahwu, klompok ahli fiqh, klompok ahli manthiq, dan lain sebagainya
2. 'Urf 'Am, yaitu klompok masyarakat dlm lingkup lbh luas, tdk terbatas pada golongan/ kelompok tertentu.

Sekian dahulu, terimakasih telah membacanya.

MENERANGKAN BAGIAN-BAGIAN KALAM

post on: Selasa, Juni 21, 2011
Pada postingan yang lalu telah diterangkan batas minimal sebuah kalam/kalimat, kali ini akan dijelaskan bagian2 kalam atau macam-macam kalimat.
والكلام ينقسم إلى أمر ونهى نحو قم وﻻ تقعد
وخبر نحو جاء زيد
واستخبار وهو الإستفهام نحو هل قام زيد فيقال نعم أو ﻻ
وينقسم أيضا إلى تمن نحو ليت الشباب يعود يوما
وعرض نحو أﻻ تنزل عندنا
وقسم نحو والله لأفعلن كذا
penjelasan :

Kalam/kalimat jika dipandang dari sudut kandungan/isinya, terbagi menjadi :
1. Amar, yaitu :
ما دل على طلب فعل
"kalam yg menunjukkan tuntutan untuk mengerjakan sesuatu/perintah". Seperti : قم= berdirilah! إضرب= pukullah! أنصر= tolonglah!

2. Nahi, yaitu :
ما دل على طلب ترك
"kalam yg menunjukkan tuntutan untuk meninggalkan sesuatu/larangan". Seperti ﻻ تقعد=jgn duduk! ﻻ تأكل=jgn makan!

3. Khobar (berita), yaitu :
ماإحتمل الصدق والكذب لذاته
"kalam yg mengandung kemungkinan benar dan bohong, dngan melihat dzatiahnya". Seperti جاء زيد=zaed datang, berita kedatangan zaid ini mungkin benar dan mungkin bohong.

4. Istikhbar/istifham (pertanyaan), yaitu :
ما دل على طلب حصول صورة الشئ فى الذهن
"kalam yang menunjukkan permintaan untuk menjelaskan sesuatu". Seperti هل قام زيد= apakah zaid berdiri?

5. Tamanni, yaitu :
كلام دال بالوضع على طلب ماﻻ طمع فيه أو ما فيه عسر
"kalam yang diletakkan untk menunjukkan makna menginginkan sesuatu yg tdk bisa diharapkan atau sulit untk didapatkan". Semisal org miskin tak berharta mengatakan :
ليت لى قنطارا من ذهب فأحج منه
"seandainya aku punya emas yang banyak, maka aku bisa naik haji".

Dan contohnya lagi ucapan orang yg sudah tua :
ليت الشباب يعود يوما
"seandainya masa muda itu kembali lagi.....". Dan semua ucapan/kalimat tersebut, tidak bisa diharapkan atau sulit didapatkan/dikabulkan karena kenyataannya tidak mungkin terjadi.

6.'Ardl, yaitu :
كلام مصدر بألآ دال بالوضع على طلب برفق ولين
"kalam yang diawali dgn lafadh الآ yg di ciptakan untuk menunjukkan permintaan secara halus dan santun". Semisal الآ تنزل عندنا = mari singgah ditempatku !

7. Qosam, yaitu:
كلام دال على اليمين
"kalam yang menunjukkan arti sumpah". Semisal والله لأفعلن كذا = demi Allah, sungguh aku akan melakukan demikian...

8. Tahdlidl, yaitu:
كلام مصدر بهلا دال على طلب بحث وإزعاج
"kalam yg diawali dgn lafad هلا yg menunjukkan arti permintaan dgn keras dan disertai teriakan". Semisal هلا أكرمت زيدا = mengapa kamu tdk memuliakan zaid !??!

Mohon maaf atas keterlambatan pengeposan posting, harap di maklumi atas kesibukan di dunia nyata :)

jazakumullah.

BAB-BAB DALAM USHUL-FIQH : menerangkan tentang kalam

post on: Jumat, Juni 10, 2011
Bab-bab yang dibahas dalam usul fiqh adalah : tentang pembagian kalam, amr, nahi, 'am, khos dan juga tentang muthlaq & muqoyyad. Sekarang akan di jelaskan tentang kalam dahulu, mushonnif menuliskan dalam al-waroqot sbb:

وأبواب أصول الفقه أقكسام الكلام والأمر والنهى والعام والخاص ويذكر فيه المطلق والمقيد والمجمل والمبين والظاهر وفى بعض النسخ والمؤول وسيأتى والأفعال والناسخ والمنسوخ والإجماع والأخبار والقياس والحظر والإباحة وترتيب الأدلة وصفة المفتى والمستفتى وأحكام المجتهدين

فأقل ما يتركب منه الكلام إسمان نحو زيد قائم

أو اسم وفعل نحو قام زيد

أو فعل وحرف نحو ماقام اثبته بعضهم ولم يعد الضمير فى قام الراجع إلى زيد مثلا لعدم ظهوره والجمهوره على عده كلمة

أو اسم وحرف وذلك فى الندى نحو يازيد وإن كان المعنى أدعو أو أنادى زيدا
penjelasan:
‎
Batasan minimal dari sebuah kalam adalah terdiri dari :

1‎. DUA ISIM.
Dua isim disini bisa berupa : mubtada khobar, mubtada & fa'il yg menempati kedudukan khobar, mubtada & naibul fail yg menempati kedudukan khobar, atau isim fi'il dan fa'il. Contohnya seperti : زيدقائم = zaid berdiri (ini kalam yg terdiri dari mubtada dan khobar), أقائم زيد = apakah zaid berdiri? (mubtada dan fa'il yg menempati kedudukan khobar), أمضروب زيدان‎ = apakah yg dipukul itu zaid? (mubtada dan naibul fa'il yg menempati kedudukan khobar),
هيهات العقيق
=jauh skali lembah 'aqiq itu (isim fi'il dan fail).
‎
2‎. ISIM DAN FI'IL.
Isim dan fi'il ini bisa brupa : fi'il dan fa'il atau fi'il dan naibul fa'il. Contohnya seperti : قام زيد = zaed berdiri (fi'il dan fa'il), ضرب زيد = zaid dipukul (fi'il dan naibul fa'il).

3. FI'IL DAN HURUF.
Seperti contoh : ماقام, contoh ini menurut sbgian ulama terdiri dua kalimat, yakni kalimat huruf (ما) dan kalimat fi'il (قام), sdangkan dhomir "huwa" yg menjdi failnya قام yg tersimpan (dhomir mustatir) tidak dihitung, karena tidak tampak dlm pengucapan. Namun jumhur ulama berpendapat bhw contoh di atas (ماقام) terdiri dari 3 kalimah, dgn menghitung dhomir mustatir (huwa yang tersimpan).

4. ISIM DAN HURUF.
Contohnya : يازيد =wahai zaid!! ( huruf nida' {ya} dan isim {zaidu} ). Menurut qoul dlo'if, contoh ini dianggap terdiri dari huruf dan isim. Akan tetapi menurut qoul yg kuat, huruf nida tersebut hanya menggantikan kedudukan kalimat fi'il, yakni lafadz : أدعو atau أنادى (aku memanggil) yg dikira-kirakan. Jadi sebenarnya يازيد ini terdiri dari fi'il dan isim, bukan terdiri dari isim dan huruf.

DEFINISI USHUL FIQH

post on: Rabu, Juni 08, 2011
Kali ini akan diterangkan Definisi ushul fiqh yang menjadi pembahasan di dalam kitab al-waroqot dan blog kita ini. Mushonnif menuliskan sebagai berikut :
وأصول الفقه اى الذى وضع فيه هذه الورقات طرقه اى طرق الفقه على سبيل الإجمال كمطلق الأمر والنهى وفعل النبى صلى الله عليه وسلم والإجماع والقياس والإستصحاب من حيث البحث عن أولها بأنه للوجوب والثانى انه للحرمة والباقى بانه حجج وغير ذلك مما سيأتى مع ما يتعلق به
بخلاف طرقه على سبيل التفصيل نحو أقيموا الصلاة وﻻ تقربوا الزنا وصلاته صلى الله عليه وسلم فى الكعبة كما أخرجه الشيخان‎ ‎والإجماع على أن لبنت الإبن السدس مع بنت الصلب حيث ﻻ معصب لهما‎ ‎وقياس البر على الأبرز فى امتناع بيع بعضه ببعض إﻻ مثلا بمثل يدا بيد كما رواه مسلم‎ ‎واستحاب الطهارة لمن شك فى بقائها‎ ‎فليست من أصول الفقه وإن ذكر بعضها فى كتبه تمثيلا
وكيفية الإستدلال بها أى بطرق الفقه من حيث تفصيلها عند تعارضها لكونها ظنية من تقديم الخاص على العام والمقيد على المطلق وغير ذلك‎ ‎وكيفية الإستدلال بها تجر إلى صفات من يستدل بها وهو المجتهد‎ ‎فهذه الثلاثة هى الفن المسمى بأصول الفقه لتوقف الفقه عليه

penjelasan:
sesungguhnya ushul-fiqh adalah disiplin ilmu yang mencakup tiga pokok pembahasan, yaitu :
1. Teori-teori fiqh yang masih umum/global (ijmal).
2. Metode pengambilan hukum.
3. Syarat-syarat seorang mujtahid.

Baiklah, mari kita kupas satu-persatu.

1. Teori-teori fiqh yang masih ijmal.
Seperti:
*Amar (perintah) yang dimutlakkan, menunjukkan hukum wajib.
*Nahi (larangan) yang dimutlakkan, menunjukkan hukum haram.
*Tindakan Nabi saw. Ijma', qiyas dan istishhab (melanggengkan hukum asal), bisa dijadikan sebagai hujjah,,,,dsb seperti keterangan yang akan datang dan hal2 yang berhubungan dengannya.

Sedangkan untuk kaidah2 fiqh yang sudah diterapkan pada masalah2 tertentu, bukan termasuk bagian dari ushul-fiqh, seperti :
أقيموا الصلاة
"dirikanlah sholat" dalil ini merupakan perintah untuk mendirikan sholat, sedangkan perintah itu jika dimutlakkan menunjukkan hukum wajib, dengan demikian sholat itu hukumnya adalah wajib.
Contoh lainnya:
وﻻ تقربوا الزنا
"jangan kalian dekati perzinaan" Dalil ini merupakan larangan mendekati zina, sedangkan larangan itu ketika dimutlakkan menunjukkan hukum haram, maka berzina itu hukumnya haram.

Dalam sebuah hadits riwayat imam Bukhori-Muslim diterangkan, bahwa Rosullah pernah sholat sunah didalam ka'bah. Dalil ini menunjukkan tindakan yg pernah dilakukan oleh Nabi saw, yakni sholat di dalam ka'bah. Sedangkan tindakan nabi merupakan hujjah, dgn dmikian sholat sunah di dalam ka'bah hukumnya jawaz (boleh).

Ijma' para ulama, tentang anak perempuan dari anak laki2 mayit yg bersamaan anak perempuan kandung si mayit, ketika tdk ada yang meng'ashobahinya, mendapatkan 1/6 bagian. Ijma' para ulama ini merupakan hujjah, maka anak perempuan dari anak laki2 si mayit (maksudnya cucu perempuan dari anak kandungnya yg laki2) dan juga anak kandung si mayit yg perempuan, ketika tidak ada yang meng'ashobahinya, mendapatkan bagian 1/6 dari harta warisan, ini berdasarkan ijma' para ulama.

Peng qiyasan gandum atas beras, yang menurut sebuah hadits riwayat imam muslim, dilarang untuk ditukarkan dgn sebagian yang lain, kecuali harus sama timbangan atau takarannya dan harus diserah terimakan. Sedangkan qiyas itu bisa dijadikan hujjah untuk menetapkan sebuah hukum, maka gandum hukumnya sama seperti beras, yakni haram dijual / ditukarkan (barter) dengan sebagian yang lain, kecuali dalam kadar timbangan yang sama dan diserah terimakan seketika itu juga.

Melanggengkan hukum suci bagi orang yang meragukan tetapnya kesucian. Misalnya ada orang yang telah berwudlu, namun ia ragu apakah dirinya sudah batal atau masih suci, maka orang tersebut tetap di hukumi suci karena menetapkan hukum asal (istishhab) bisa dijadikan hujah untuk menetapkan hukum.

2. Metode pengambilan hukum, ketika terjadi pertentangan diantara dalil-dalil fiqh dengan menggunakan teori-teori fiqh yang sebangsa tafshili (yg sudah di terapkan). Misalnya : ketika ada pertentangan antara "dalil 'am" dengan "dalil khosh", maka yang dipakai adalah dalil khosh. Ketika terjadi pertentangan antara "dalil mutlak" dengan "dalil muqoyyad", maka yang dipakai adalah dalil muqoyyad, dsb.

Namum apabila antara dalil2 yang bertentangan tersebut masih bisa di kompromikan, maka wajib untuk mengkompromikannya.


Semisal dalam sebuah hadits, rosululla bersabda :
العينان وكاء السه فمن نام فليتوضأ
"dua mata adalah tali pengikat dubur, maka barang siapa tidur, maka hendaknya berwudlu".

Sementara ada dalam hadits yang lain, yang diriwayatkan dari Anas :
كان أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم ينامون ثم يصلون وﻻ يتوضؤن‎
"para sahabat rosulullah pada suatu ketika tertidur, kemudian mereka melakukan sholat dan mereka tidak berwudlu".

Hadits yg pertama oleh para ulama diarahkan kpd pengertian "tidur dgn tanpa menetapkan pantat" sedangkan hadits yg kedua diarahkan kpd pengertian "tidur dengan menetapkan pantat"

Pembahasan syarat2 mujtahid akan di terangkan nanti, insyallah.

Cukup sekian dulu yah :-)

DHONN DAN SYAK

post on: Kamis, Juni 02, 2011
بسم الله الرحمن الرحيم
kyai mushonif telah membahas tentang definisi ilmu yg menjadi bagian dari "idrok jazim" yaitu pemahaman yg berdasarkan keyakinan, kemudian juga kyai mushonif sedikit menyinggung tentang "idrok ghoiru jazim" yaitu pemahaman yg masih mungkin berubah-ubah, yakni dhonn dan syakk. Beliau menulis :
والظن تجويز أمرينأحدهما أظهر من الآخر عند المجوز

والشك تجويز الأمرين ﻻ مزية لأحدهما على الآخر عند المجوز

فالتردد فى قيام زيد ونفيه على السواء شك ومع رجحان الثبوت والإنتفاء ظن

penjelasan :
Pengertian dhon adalah :
تجويز أمرين أحدهما أظهر من الآخر عند المجوز

"menganggap mungkin atas terjadinya dua perkara, dimana salah-satunya lebih kuat dari pada yang lain, menurut pandangan orang yg punya anggapan".

Semisal cuaca terlihat mendung, yg memungkinkan antara terjadi hujan dan tdk terjadi hujan, namun dari dua kemungkinan itu, yang lebih kuat adalah akan turun hujan.

Sedangkan pengertian syakk adalah :
تجويز الأمرين ﻻ مزية لأحدهما على الآخر عند المجوز

"menganggap mungkin atas terjadinya dua perkara dan tdk ada yg lebih kuat diantara keduanya, menurut pandangan org yg beranggapan".

Semisal, cuaca dalam keadaan mendung bercampur tiupan angin yg tidak begitu kencang, mungkin akan turun hujan dan mungkin juga tidak akan hujan. Dua kemungkinan ini sama-sama kuatnya untk terjadi.

Adapun wahm adalah:
تجويز الأمرين مع اعتقاد مرجوحية أحدهما‎
"menganggap mungkin atas terjadinya dua perkara, namun menganggap lemah salah-satu diantara keduanya".

Contohnya cuaca dalam keadaan terang, kemungkinan punya anggapan akan turun hujan.

Semoga dapat di pahami :-) :)

PEMBAGIAN ILMU

post on: Rabu, Juni 01, 2011
بسم الله الرحمن الرحيم :‎
kali ini akan di jelaskan macam2 ilmu para makhluk. Imam haromain ra. menuliskan:

والعلم الضرورى ما ﻻ يقع عن نظر واستدﻻل كالعلم الواقع بإحدى الحواس الخمس الظاهرة

وهى السمع والبصر واللمس والشم والذوق فإنه يحصل بمجرد الإحساس بها من غير نظر واستدلال

وأما العلم المكتسب فهو الموقوف على النظر والإستدلال كالعلم بأن العالم حادث فإنه موقوف على النظر فى العالم وما نشاهده فيه من التغيير فينتقل من تغييره إلى حدوثه

والنظر هو الفكر فى حال المنظور فيه ليؤدي إلى المطلوب
والإستدلال طلب الدليل ليؤدي إلى المطلوب فمؤدى النظر والإستدلال واحد وجمع المصنف بينهما فىى الإثبات والنفى تأكيدا

والدليل هو المرشد إلى المطلوب لأنه علامة عليه

penjelasan :


bahwasanya ilmu para makhluk itu terbagi menjadi dua macam :

1. Ilmu Dloruri
2. Ilmu muktasab (nadhori)

Pengertian dari ilmu dloruri adalah :
ما ﻻ يقع عن نظر واستدلال ‎
"ilmu yg diperoleh dgn tanpa berfikir dan tanpa menggali dalil". Seperti ilmu yg ditangkap oleh salah-satu dari panca indera dhohir.

Semisal, warna biru langit yg di tangkap oleh mata, bau harum bunga yg tercium oleh alat pembau, rasa kasar/halus dari suatu benda yg di rasakan alat peraba, atau rasa asin pedas pahit atau manis yg di tangkap indera perasa,,, dsb.

Semua itu ditangkap oleh panca indra dgn tanpa melalui proses berfikir atau pencarian dalil terlebih dahulu. Oleh karena itu, ilmu yg ditangkap oleh indera ini bersifat pasti & tdk bisa ditolak oleh siapapun, maka disebut dgn ilmu Dhloruri.

Sedangkan pengertian dari ilmu nadhori adalah :
الموقوف على النظر والإستدلال
"ilmu yg di hasilkan melalui proses berfikir dan pencarian dalil". Sebagaimana ilmu tentang "alam" yg dihukumi hädits (baru datang), dgn melalui proses berfikir tentang alam dan apa yg kita saksikan dari perubahan2 yg terjadi pada alam, kemudian kita bisa menyimpulkan dri perubahan2 itu bhwa alam itu barang baru, bukan sesuatu yg qodim, karena segala sesuatu yg mengalami perubahan dari waktu ke waktu, itu pasti perkara yg baru datang.

Dari berfikir tentang alam, kemudian berusaha untuk mencari bukti2 yg mengarah kpda sebuah kesimpulan tentang baru datangnya alam, berdasarkan bukti2 yg ditemukan.

Berfikir tentang alam dan fenomena yg terjadi pada alam ini, menurut istilah disebut dengan an-nadhor. Sedangkan upaya2 untk mencari bukti tentang baru datangnya alam ini disebut dengan istidläl. Kemudian bukti2 brupa perubahan2 yg terjadi pd alam, disebut dgn dalil. Sedangkan kesimpulan yg sedang dicari, yakni tentang baru datangnya alam, ini disebut al-mathlûb.

Dengan demikian, an-nadhor dan istidlal sebenarnya mengarah pada tujuan yg sama, yakni ingin sampai kpda kesimpulan yg benar (al-mathlub ash-shohih).

Pengertian dri an-nadhor itu sendiri adalah :
الفكر فى حال المنظور فيه ليؤدي إلى المطلوب

"berfikir tentang keadaan dari perkara yg difikirkan, agar sampai kepada kesimpulan yg sdang dicari".

Pengertian al-fikr:
حركة النفس فى المعقولات

"menggerakkan hati menuju hal2 yg bisa di cerna oleh akal".

Pengertian istidlal:
طلب الدليل ليؤدى إلى المطلوب

"mencari bukti-bukti agar sampai kepada kesimpulan yg sedang dicari".

Sedangkan pengertian dalil menurut istilah adalah :
مايمكن التوصل بصحيح النظر فيه إلى مطلوب خبرى‎
"sesuatu yg bisa di gunakan perantara untuk sampai kepada kesimpulan yang dicari, dengan melalui proses berfikir yang benar".

Terima kasih sudah membaca. Salam ukhuwah

Menerangkan tentang Ilmu dan jahl

post on: Kamis, Mei 26, 2011
Slanjutnya imam haromain dalam waroqotnya menerangkan ilmu dan jahl, beliau menuliskan :

والفقه بالمعنى الشرعى أخص من العلم لصدق العلم بالنحو وغيره فكل فقه علم وليس كل علم فقها
penjelasan:


Fiqh secara bahasa memiliki arti yg lebih luas daripada ilmu, karena fiqh menurut bahasa berarti : "pemahaman (idrök)", yg bisa mencakup pemahaman terhadap ilmu dan yang lainnya.

Sedangkan fiqh secara makna syar'i berpengertian lebih sempit dripada ilmu, krna stiap fiqh itu pasti termasuk ilmu, sedangkan stiap ilmu belum tentu fiqh. Karena ilmu bercabang banyak sekali, antara lain : ilmu fiqh, ilmu nahwu, ilmu falaq, ilmu manthiq,,,, dan lain sebagainya.

Yang dimaksud ilmu adalah seperti yang ditulis dalam kitab waroqot adalah :
والعلم معرفة‎ ‎المعلوم اى إدراك ما من شأنه أن يعلم على ما هوبه فى الواقع كإدراك الإنسان بأنه حيوان ناطق
penjelasan :

ilmu adalah:
إدراك ما من شأنه أن يعلم على ما هوبه فى الواقع

"pemahaman tentang perkara yang bisa diketahui dan sesuai dgn kenyataan yg sebenarnya".

Seperti halnya ; pemahaman tentang hakikat manusia, yg di definisikan sebagai "hayawan näthiq" binatang yg bisa berfikir/bicara. Pemahaman ini ternyata sesuai dgn hakikat manusia yg sebenarnya, yaitu bisa berfikir & berbicara.

Contoh lain : pemahaman tentang hakikat kuda, yg di definisikan sebagai "hayawan shohìl" hewan yg bisa meringkik. Dan ternyata pemahaman ini sesuai dgn kenyataan hakikat kuda yg sebenarnya, yaitu bisa meringkik.

Pemahaman tentang sesuatu, jika tdk sesuai dgn kenyataan yang sebenarnya, maka tidak bisa disebut ilmu. Seperti pemahaman orang2 yahudi tentang Nabi 'uzair as yang menurut mereka di yakini sebagai anak Allah SWT.

Idrök yang dimaksud disini adalah idrok jazim, yaitu "suatu pemahaman yang mantap (yakin)". Dengan demikian : dhonn (dugaan), syakk (keraguan), dan wahm (angan2) tidak termasuk dalam definisi ilmu. [an-nafahät, hlm 24]

Ilmu yang berkaitan dengan hakikat sesuatu, menurut ulama manthiq di sebut dengan istilah TASHOWWUR, seperti pemahaman tentang hakikat manusia yg di tashowur kan dgn definisi HAYAWAN NÄTHIQ.

Sedangkan ilmu yg berkaitan dengan penetapan hukum terhadap sesuatu, disebut dgn istilah TASHDÌQ. Seperti pemahaman tentang bumi itu bundar. Penetapan hukum bundar terhadap bumi ini, di kalangan ulama manthiq disebut dgn istilah tashdiq.

Sedangkan Jahl adalah :
والجهل تصور الشئ اى إدراكه على خلاف ماهو به فى الواقع كإدراك الفلاسفة أن العالم وهو ما سوى الله تعلى قديم وبعضهم وصف هذا الجهل بالمركب وجعل البسيط عدم العلم بالشئ كعدم علمنا بما تحت الأرضين وبمافى بطون البحار وعلى ماذكره المصنف ﻻ يسمى هذا جهلا
penjelasan :

jahl terbagi menjadi dua macam :
1. jahl murokab, yaitu :
إدراك الشئ على خلاف ماهو به فى الواقع
"memahami sesuatu, tapi tidak sesuai dgn kenyataan yg sebenarnya".

Contohnya seperti pemahaman ahli filsafat tentang alam -yakni segala sesuatu selain Allah- yg menurut mereka di hukumi Qodim. Pendapat ini tdk sesuai dgn kenyataan yg sebenarnya, karena alam selalu berubah-ubah, sedangkan sesuatu yg brubah-ubah berarti baru datang (huduts), bukan qodim.

Disebut jahl murokab, karena slain pendapatnya itu keliru, mereka juga tdk menyadari bhwa pendapatnya itu keliru. Dengan demikian, ada dua kebodohan (murokkab) yg melekat dalm dirinya, yaitu bodoh terhadap sesuatu dan tdk menyadari terhadap kebodohannya sendiri.

2. jahl basith, yaitu :
عدم العلم بالشئ‎
"sama sekali tidak mengerti terhadap sesuatu".

Seperti halnya ketidak tahuan kita akan apa-apa yang ada dilangit, di perut bumi, atau apa-apa yg ada di dasar samudra.

Jahl basith ini tidak termasuk dalam definisi jahl yang dituturkan oleh penulis (imam haromain), karena jahl menurutnya hanya ada satu macam, yaitu jahl murokab.

Terima kasih sudah membacanya, teruslah belajar. ^_^

Menerangkan hukum shohih dan bathil

post on: Sabtu, Mei 21, 2011
Kali ini akan menerangkan hukum yg selanjutnya, yaitu Shohih. Kyai mushonif menuliskan dalam "waroqot"nya :

والصحيح من حيث وصفه بالصحة ما يتعلق به النفوذ ويعتد به بأن استجمع ما يعتبر فيه شرعا عقدا كان أو عبادة‎
‎
penjelasan :

shohih secara bahasa berarti "sesuatu yg slamat (السليم)". Sedangkan menurut istilah ulama ushul adalah :
ما يتعلق به النفوذ ويعتدبه

"sesuatu yg dianggap tlah berhasil kpda tujuan (nufudz) dan mencukupi".

Sesuatu, baik berupa ibadah maupun akad, sudah dianggap berhasil dan mencukupi, apabila telah memenuhi ketentuan2 syara' yakni memenuhi syarat dan rukunnya. Misalnya : apabila seseorang mengerjakan sholat, dan sudah memenuhi syarat dan rukunnya sholat, maka sholatnya dinyatakan shohih (sah). Dengan dmikian maka sholatnya telah mencukupi untk menggugurkan kewajibannya dari sholat.

Contoh lain : akad nikah atau jual-beli, dihukumi sah apabila tlah memenuhi syarat dan rukun yg di tetap kan oleh syara'.

Pengertian nufudz adalah :
البلوغ الى المقصود
"sampai kpd tujuan (keberhasilan)".

Jika akad jual-beli sudah dinyatakan sah, berarti kedua belah pihak telah sampai kepada TUJUAN JUAL-BELI (nufudz), yakni memiliki barang atau bayaran atau uang yg di inginkan.
Demikian pula apabila akad nikah sudah dinyatakan sah oleh penghulu dan para saksi, maka kedua belah pihak telah sampai kepada tujuan pernikahan (nufudz), yakni diperbolehkan bersenang2 dengan istrinya ( حل الإستمتاع).

Kyai mushonif melanjutkan tulisannya, dan membahas tentang "Bathil" beliau menulis :

والباطل من حيث وصفه بالبطلان مالا يتعلق به النفوذ ولايعتدبه بأن لم يستجمع مايعتبرفيه شرعا عقداكان أوعبادة

penjelasan :
Al-bathil juga bisa disebut dengan FASID, menurut istilah memiliki pengertian :
مالا يتعلق به النفوذ ولايعتدب به

"sesuatu yg belum sampai kepada tujuan dan juga blum mencukupi". Yakni, perkara2 yg blum memenuhi ketentuan2 yang ditetapkan oleh syara' baik berupa ibadah maupun akad. Misalnya sholat dgn mengabaikan salah-satu rukun atau syarat2nya, maka shola tersebut dihukumi BATHIL (batal) atau FASID. Contoh lain, seperti akad nikah yg dilakukan tanpa saksi atau wali, maka pernikahan seperti ini dihukumi FASID / BATAL.

Abu Hanifah membedakan antara BATIL & FASID, sebagai berikut :
ماكان النهى فيه راجعالأصله فهو البطلان كما فى الصلاة بدون بعض الشروط أو الأركان
"jika larangan yg berkaitan dgn ibadah atau akad, mengarah kpda syarat atau rukunnya (li ashlihi, dzatiahnya), maka itu disebut bathil/batal (buthlän), seperti sholat dgn meninggalkan sebagian sarat atau rukun2nya".

وماكان النهى فيه راجعالوصفه فهو الفسادكمافي صوم يوم النحرللإعراض بصومه عن ضيافةالله للناس بلحوم الأضاحى التى شرعهافيه
"dan jika larangan tersebut mengarah kpd sifatnya ibadah atau akad, maka disebut dgn FASAD, seperti puasa pda hari raya kurban, krna "berpaling dari suguhan Allah", yakni daging kurban, yg penyembelihannya di laksanakan pda hari itu".

Tolok ukur keabsahan suatu ibadah adalah :

مافى ظن المكلف ونفس الأمر
"apa yg menjadi PERSANGKAAN orang mukalaf dan KENYATAAN yg sebenarnya".
Contohnya orang melakukan sholat dgn persangkaan suci, kemudian ternyata menanggung hadats, maka sholatnya dihukumi batal dan wajib mengulanginya lagi, krna persangkaannya tersebut tdk sesuai dgn kenyataan yg sebenarnya.

Sedgkan tolok ukur dalam keabsahan suatu akad adalah :

مافي نفس الأمرفقط
"kenyataan yg sebenarnya saja (dgn tdk memandang persangkaan).
Misalnya orang menjual suatu barang, yg menurut persangkaannya, merupakan milik orang lain, kemudian ternyata brang tersebut adalah miliknya sendiri, maka penjualan barang tersebut tetap dihukumi SAH, meskipun tdk sesuai dgn persangkaannya.

¤Tambih shohih & bathil, mushonif melanjutkan lagi :
والعقد يتصف بالنفوذ والإعتداد والعبادة تتصف بالإعتداد فقط إصطلاحا
penjelasan:

Pada definisi shohih dan bathil diatas, antara nufudz dan i'tidad di sebutkan secara bersamaan, sehingga terkesan seakan2 masing-masing akad dan ibadah bisa disifati dgn nufudz & i'tidad skaligus, padahal tidak demikian.

Karena menurut istilah, yg bsa disifati dg i'tidad dan nufudz hanya tertentu AKAD SAJA, sedangkan IBADAH tdk bisa disifati dgn nufudz namun hanya bisa disifati dgn i'tidad. Oleh karna itu, kita tdk pernah mendengar orang mengatakan :"sholat atau puasa seseorang telah sampai kepada tujuan (nufudz)", akan tetapi orang hanya akan berkata :"sholat atau puasanya telah dianggap sah (i'tidad)".

Terima kasih sudah mau membacanya :-)
semoga Allah slalu membukakan pintu ilmuNYA untuk kita semua, amin.
Wassalamu 'alaikum warohmatullah wabarokatuh.

HARAM & MAKRUH

post on: Minggu, Mei 15, 2011
Kali ini mushonif menulis tentang Haram & Makruh :
والمحظور من حيث وصفه بالحظراى الحرمة مايثاب على تركه امتثاﻻ ويعاقب على فعله ويكفى فى صدق العقاب وجوده لواحد من العصاة معالعفو عن غيره ويجوزان يريد ان يترتب العقاب على فعله كماعبربه غيره فلاينافى العفو

penjelasan:


Al-mahdhûr juga disebut dgn istilah : MUHARROM, HARAM, DZANBU (dosa), MAZJÚR 'ANHU, MUTAWA'AD 'ALAIH dan HAJRU .

Pengertian al-mahdhúr (haram) adalah :"Suatu perkara yg jika ditinggalkan, dgn niat mematuhi perintah Allah, akan mendapatkan pahala & jika dikerjakan akan mendapatkan siksa". Dengan definisi seperti ini, maka MAKRUH TAHRIM juga termasuk dalam definisi HARAM, krna makruh tahrim jika dikerjakan akn mendapatkan siksa dan jika ditinggalkan akan mendapatkan pahala.

Hanya saja para ulama sedikit membedakan antara HARAM dengan MAKRUH TAHRIM, sebagai brikut :
الحرام ماثبت نهيه بدليل قطعى ﻻيحتمل التأويل
"HARAM adalah suatu perkara yg dilarang berdasarkan DALIL QOTH'I yg tdk menerima untk di takwili dgn pengertian yg lain".

Sedangkan makruh tahrim
والمكروه كراهةتحريم ماثبت نهيه بدليل يحتمل التأويل
"sesuatu yang dilarang berdasarkan suatu dalil yg msh bisa DI TAKWILI dg pengertian yg lain".

Sedangkan perbedaan antara makruh tanzih dan makruh tahrim adalah :

أن كراهة التنزيه ماﻻ يعاقب على فعله ,
"makruh tanzih, suatu perkara yg jika dilakukan tdk mendapat siksa".

وكراهةالتحريم مايعاقب على فعله ‎
"makruh tahrim, adalah suatu perkara yg jika dilakukan akan mendapat siksa".

Meninggalkan perkara HARAM atau MAKRUH, akan mendapatkan pahala, apabila DI SERTAI NIAT/TUJUAN MEMATUHI PERINTAH ALLAH. Apabila karna TAKUT/MALU kpd manusia...dsb, maka tdk akan mendapatkan pahala. Misalnya tdk mau berzina krna malu kepada manusia lainya, tidak mau mencuri krna takut ketahuan org jdi malu....dsb, maka meninggalkan perbuatan haram seperti ini tdk akan mendapatkan pahala.

Berbeda dgn perkara WAJIB & SUNAH, bagi org yg mengerjakannya akan tetap mendapatkan pahala, meski tdk disertai tujuan mematuhi perintah Allah . Karena perkara wajib dan sunah bisa dianggap sah dan mencukupi dri tuntutan TAKLIF, jika dlm pelaksanaannya disertai niat. Sedangkan meninggalkan perkara haram dan makruh, untk dianggap sah, tidak harus disertai niat.

Namun, ada juga sbagian perkara wajib yg harus di niati: sepeti memberi nafkah untuk istri, mengembalikan barang titipan,,,dsb. Perkara wajib semacam ini, untk bisa mendapatkan pahala, harus disertai tujuan mematuhi printah allah (قصدالامتثال).

Untuk masalah Makruh, mushonif menulis :
والمكروه من حيث وصفه بالكراهةمايثاب على تركه امتثاﻻ وﻻ يعاقب على فعله

penjelasan:

Makruh secara bahasa berarti : perkara yg Dibenci (المبغوض).
Sedangkan menurut istilah adalah : "suatu yg akan mendapatkan pahala jika ditinggalkan, dgn tujuan mematuhi perintah Allah, dan tdk akan disiksa jika dikerjakan".

Para ulama Mutaqoddimin tdk membedakan antara makruh dgn khilaful-Aula. Sedangkan menurut ulama mutaakhirin, pengertian dari khilaful aula adalah:
ماكان بنهى غيرمخصوص كالنهى عن ترك المندوبات المستفادمن أوامرهالأن الأمر بالشئ نهى عن ضده.
"sesuatu yg dianjurkan untuk ditinggalkan, namun tdk berdasarkan larangan secara jelas, seperti : anjuran untk tdk meninggalkan perkara2 sunah, yg di faham dri perintah untk melaksanakannya, karena memerintahkan sesuatu berarti melarang kebalikannya".

Sekian dulu yah, tanganku sudah pegel untuk mengetik. ^_^ :-)
Wassalaamu 'alaikum warohmatullah wabarokaatuh.

Demi kelangsungan blog ini, silahkan untuk meng-klik iklan dibawah ini, gratis!!!!!

PESAN


Entri Populer Minggu ini

Arsip Blog

Total Tayangan Laman

Your browse

Mengenai Saya

Foto saya
tegal, jawa tengah, Indonesia

Pengikut

#top I powered by blogger.com